
Yohanes 6:44-51
“Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. Ada tertulis dalam kitab nabi-nabi: Dan mereka semua akan diajar oleh Allah. Dan setiap orang, yang telah mendengar dan menerima pengajaran dari Bapa, datang kepada-Ku. Hal itu tidak berarti, bahwa ada orang yang telah melihat Bapa. Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah melihat Bapa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal.
Akulah roti hidup. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari surga: Barangsiapa makan darinya, ia tidak akan mati. Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”
***
“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal.”
Manusia belajar percaya semenjak dia ada dalam kandungan ibu. Relasi ibu dan anak pelan-pelan membentuk anak untuk menjadi percaya. Kita belajar percaya karena perhatian dan kehangatan yang diberikan oleh orang tua kita. Orang tua membangun ruang aman yang membuat kita mampu berkembang.
Budaya aman menjadi panggilan kebangkitan. Kebangkitan tidak berhenti pada rasa syukur karena Tuhan menyelamatkan kita. Kebangkitan adalah gerak aktif kita untuk menghadirkan budaya aman, agar setiap orang dapat hidup dan berkembang. Kita menghadirkan kepercayaan sebagai gerak Roh Kudus yang terus bekerja dan menghidupkan manusia untuk membuat hal-hal baru.
Kita mendengar begitu banyak kejadian kekerasan di sekitar kita. Kekerasan yang dinormalisasikan dianggap biasa, dianggap merupakan lelucon dan candaan. Dengan hidup dalam budaya kekerasan, sebenarnya kita belum bangkit. Perayaan Paskah hanya menjadi omong kosong karena kita hidup dalam budaya kematian.
Siapkah kita menjadi pejuang-pejuang budaya aman dan budaya kehidupan?

