“Piala Penderitaan dan Pelayanan” . Renungan Hari Rabu, 4 Maret 2026, Hari Rabu, Pekan II Prapaskah
weismeralda@gmail.com
04-Mar-2026 09:01:51
Renungan Hari Rabu, 4 Maret 2026, Hari Rabu, Pekan II Prapaskah
Bacaan 1: Yeremia 18:18-20
Bacaan Injil: Matius 20:17-28
“Piala Penderitaan dan Pelayanan”
Berkah Dalem,
Saudari-saudara saya yang terkasih, memasuki masa Prapaskah II ini, kita semakin diajak untuk menapaki perjalanan menuju salib yang seringkali bertentangan dengan hati nurani. Hari ini, kita akan merenungkan makna pengabdian di tengah pernolakan. Tentunya kita masih ingat akan kisah Santo Maximilian Kolbe, Imam dan Martir yang diperingati setiap tanggal 14 Agustus. Santo Maximilian Kolbe ikut dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi Auschwitz, tahun 1941. Santo Maximilian Kolbe memberikan teladan nyata dengan menawarkan diri untuk menggantikan seorang ayah yang dijatuhi hukuman mati.
Apa hubungan kisah Santo Maximilian Kolbe dengan bacaan hari ini, bacaan pertama yang diambil dari Yeremia 18:18-20 dan bacaan Injil dari Matius 20:17-28?
Bacaan pertama mengkisahkan tentang Yeremia yang mengadu kepada Tuhan. Yeremia dipilih dan dipanggil Tuhan, dijuluki “The Weeping Prophet/The Suffering Prophet” (Nabi Peratap/Nabi yang menderita) karena beban emosional yang sangat berat untuk menyuarakan pertobatan kepada bangsanya sendiri yang saat itu sedang menjauh dari nilai-nilai spiritual. Namun pesannya tidaklah populer bahkan masyarakat dan para pemimpin agama merasa terganggu dengan tegurannya. Keadaan yang dialaminya itu membuatnya mengadu kepada Tuhan bahwa ia sudah melakukan kebaikan bahkan mendoakan keselamatan bangsanya namun mereka malah “menggali lubang” untuk mencabut nyawanya. Jeritan hati seorang nabi yang dikhianati oleh orang-orang yang ia kasihi, kebaikan yang dibalas dengan kejahatan. Yeremia menjadi tipe dari Kristus yang akan datang, Anak Allah yang dikhianati oleh mereka yang Ia layani. Seperti Yeremia, kita dipanggil untuk tetap setia pada kebenaran meskipun tidak populer.
Bacaan Injil mencakup pemberitahuan ketiga tentang penderitaan Yesus dan permintaan ambisius ibu Yakobus dan Yohanes. Dua kisah dalam satu Injil hari ini, ada kontras tajam antara Jalan Salib yang akan dijalankan oleh Yesus dan Jalan Kuasa para murid. Permintaan seorang ibu akan “jabatan” politik untuk anak-anaknya (Yohanes dan Yakobus) dikoreksi oleh Yesus. Yesus berbicara tentang pengosongan diri (Kenosis), sementara para murid masih terjebak dalam struktur hierarki duniawi. Yesus menekankan akan kepemimpinan dalam Kerajaan Allah bukan soal kekuasaan, namun pelayanan (diakonia) yang puncaknya adalah Yesus memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang. Menjadi yang terbesar berarti menjadi “budak” bagi sesama.
Benang merah dari kedua bacaan hari ini adalah paradoks pelayanan dan penderitaan dalam Yeremia maupun Yesus melakukan kebaikan dan membawa kebenaran, namun dibalas dengan permusuhan dan tetap setia pada kehendak Allah meskipun harus menghadapi “lubang” (Yeremia) atau “Salib” (Yesus).
Santo Maximilian Kolbe adalah “Yeremia” dan “Pelayan” modern yang dikelilingi kebencian (rezim Nazi). Ia memberikan dirinya agar orang lain bisa hidup dan meminum “cawan” penderitaan dengan penuh kesadaran. Menjadi Kristen berarti kita siap untuk tidak dihargai saat berbuat baik, siap melayani tanpa harus merasa jadi “bos”. Tuhan melihat seberapa banyak hidup kita menjadi “tebusan” dan berkat bagi orang di sekitar kita. Posisi maupun jabatan kita setinggi apapun, tetaplah untuk rendah hati dan berani menjadi saluran kasih dan rahmat Tuhan bagi sesama. Jadilah pemimpin yang melayani, menjadi teladan, tetap rendah hati, tetap setia dan jujur. Tuhan Yesus Memberkati.
Doa singkat: Allah Tritunggal Mahakudus yang berkuasa atas diri kami, tidak terasa kami sudah Engkau bawa pada Prapaskah II ini. Tuhan, bawalah kami untuk semakin mempersiapkan diri yang tetap mau rendah hati dan berani menjadi saluran kasih dan rahmat-Mu bagi sesama baik dalam pekerjaan kami dan aktifitas kami. Doa ini, Tuhan, kami persembahkan kepada-Mu dengan perantaraan Kristus, Tuhan kami, Amin.
